Islam di Jepang: Sejarah, Perkembangan, dan Kehidupan Muslim di Tanah Matahari Terbit

Islam adalah agama yang berkembang pesat di seluruh dunia. Meskipun Jepang terkenal sebagai negara dengan mayoritas penduduknya yang menganut agama Buddha dan Syintoisme, namun Islam juga memiliki sejarah dan perkembangan yang menarik di Jepang. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang sejarah, perkembangan, dan kehidupan Muslim di Jepang.

Sejarah Islam di Jepang

Sejarah Islam di Jepang dimulai pada abad ke-16. Menurut buku “Tareekh Al-Fattash” karya M. Rashid, seorang pedagang Muslim asal Gujarat, India bernama Waheed Bashi tiba di Nagasaki pada tahun 1579 dan mendirikan masjid pertama di Jepang, yaitu Masjid Kosenji. Namun, tidak banyak yang diketahui mengenai perkembangan Islam di Jepang selama beberapa abad ke depan.

Baru pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1853 ketika Kapten Perry Amerika Serikat datang ke Jepang, Islam mulai masuk ke dalam perhatian masyarakat Jepang. Kapten Perry membawa seorang penterjemah Jepang bernama Daikichi Irokawa yang kemudian menjadi Muslim dan memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jepang.

Pada tahun 1890-an, tokoh terkenal di Jepang bernama Inagaki Tokugawa juga menjadi Muslim dan mendirikan Masjid Tsukiji di Tokyo yang saat ini masih berdiri. Pada tahun 1930-an, seorang Jepang bernama Umar Mita pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan kemudian mendirikan organisasi pemuda Muslim di Jepang.

Namun, perkembangan Islam di Jepang sempat terhambat ketika Jepang menjadi bagian dari Blok Poros selama Perang Dunia II dan hubungan dengan negara-negara muslim terputus. Baru setelah Perang Dunia II, Islam kembali berkembang pesat di Jepang.

Perkembangan Islam di Jepang

Masjid dan Pusat Islam

Saat ini, terdapat sekitar 110 masjid dan pusat Islam di seluruh Jepang. Masjid terbesar di Jepang adalah Masjid Tokyo Camii yang dibangun pada tahun 1938 dan direnovasi pada tahun 2000. Selain itu, terdapat juga Masjid Kyoto di ibu kota Kyoto dan Masjid Osaka di kota Osaka.

Organisasi Islam di Jepang

Organisasi Islam terbesar di Jepang adalah Japan Islamic Trust (JIT) yang didirikan pada tahun 1952 oleh para imigran muslim dari India dan Pakistan. JIT mengurus berbagai kegiatan seperti pendidikan, pengajaran bahasa Arab, dan penyebaran Islam di Jepang.

Selain JIT, terdapat juga organisasi seperti Japan Muslim Association (JMA) yang didirikan pada tahun 1953 dan Japan Islamic Foundation (JIF) yang didirikan pada tahun 1960. Kedua organisasi ini juga aktif dalam mempromosikan Islam di Jepang.

Kehidupan Muslim di Jepang

Sebagian besar Muslim di Jepang berasal dari negara-negara Asia seperti Indonesia, Bangladesh, Pakistan, India, dan Malaysia. Kehidupan Muslim di Jepang cukup nyaman karena di sana terdapat banyak toko halal dan restoran halal yang menyediakan makanan halal.

Selain itu, kebanyakan dari mereka juga telah mempelajari bahasa Jepang sehingga dapat berkomunikasi dengan masyarakat Jepang dengan baik. Beberapa perguruan tinggi juga telah membuka program studi tentang Islam dan bahasa Arab.

Tantangan bagi Muslim di Jepang

Perbedaan Budaya dan Bahasa

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Muslim di Jepang adalah perbedaan budaya dan bahasa. Meskipun masyarakat Jepang terkenal sebagai masyarakat yang ramah dan sopan, namun mereka juga sangat menekankan pada etika dan tradisi mereka sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seorang Muslim untuk memahami budaya dan bahasa Jepang agar dapat beradaptasi dengan mudah di Jepang.

Stigma Terhadap Islam

Meskipun Islam telah berkembang pesat di Jepang, namun masih terdapat stigma negatif terhadap Islam di kalangan masyarakat Jepang. Beberapa kasus terorisme yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai muslim di negara-negara Barat juga mempengaruhi persepsi masyarakat Jepang terhadap Islam.

Ketersediaan Produk Halal

Meskipun di Jepang terdapat banyak toko dan restoran halal, namun masih sulit untuk menemukan produk-produk halal seperti kosmetik dan obat-obatan. Oleh karena itu, bagi seorang Muslim yang tinggal di Jepang, harus ekstra hati-hati dalam memilih produk-produk yang digunakan.

Table: Jumlah Masjid di Jepang Berdasarkan Prefektur

| Prefektur | Jumlah Masjid ||———–|—————|| Tokyo| 26|| Osaka| 8|| Kanagawa| 6|| Chiba| 6|| Saitama| 5|| Aichi| 5|| Kyoto| 4|| Fukuoka| 4|| Hokkaido| 4|| Ibaraki| 3|| Hyogo| 3|

Kesimpulan

Dalam artikel ini, kita telah membahas tentang sejarah, perkembangan, dan kehidupan Muslim di Jepang. Meskipun Islam masih merupakan minoritas di Jepang, namun perkembangan Islam di Jepang telah cukup pesat. Terdapat banyak masjid dan pusat Islam di seluruh Jepang, serta kehidupan Muslim di Jepang cukup nyaman. Kendati demikian, masih terdapat beberapa tantangan yang dihadapi oleh Muslim di Jepang seperti perbedaan budaya dan bahasa, stigma negatif terhadap Islam, dan ketersediaan produk halal.

FAQs

1. Apakah Islam dianggap sebagai agama minoritas di Jepang?

Ya, Islam masih dianggap sebagai agama minoritas di Jepang. Mayoritas penduduk Jepang menganut agama Buddha dan Syintoisme.

2. Berapa jumlah masjid di Jepang?

Terdapat sekitar 110 masjid dan pusat Islam di seluruh Jepang.

3. Apakah terdapat toko halal di Jepang?

Ya, terdapat banyak toko halal dan restoran halal di Jepang yang menyediakan makanan halal.

4. Apakah masyarakat Jepang merespons positif terhadap keberadaan Muslim di Jepang?

Meskipun masih terdapat stigma negatif terhadap Islam di kalangan masyarakat Jepang, namun masyarakat Jepang umumnya merespons positif terhadap keberadaan Muslim di Jepang.

5. Apakah sulit untuk menemukan produk halal di Jepang?

Meskipun di Jepang terdapat banyak toko dan restoran halal, namun masih sulit untuk menemukan produk-produk halal seperti kosmetik dan obat-obatan.

Disclaimer

Artikel ini dibuat semata-mata untuk tujuan informasi. Penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahan atau kekurangan dalam informasi yang disajikan dalam artikel ini. Pembaca diharapkan untuk melakukan pengecekan dan verifikasi informasi yang diberikan dalam artikel ini.

Leave a Comment